CIRI GURU HEBAT ITU, RENDAH HATI


Pontianak, 28 Februari, waktu Indonesia Bagian Barat. Pesta Cap Go Meh baru saja usai. Nuansa awan mendung temaniku di pagi itu. Pukul 7 pagi, langit tanpa gemuruh, aku berjogging ria sambil hunting  komunitas unik yang bertebaran di Car Free Day.

Sebelumnya aku telah berjanji bertemu seorang Guru Besar beladiri wing chun, yang menyambangi kota khatulistiwa. Ia salah satu guru dari guru tempatku menuntut ilmu asal tiongkok ini. Dari jarak jauh, kami selalu berkomunikasi via BBM, kudapati kontaknya dari temanku.

Sejak 2005, sang guru telah merintis seni beladiri yang dinamai Perguruan Harimau Besi. Kini namanya semakin besar, dengan puluhan cabang yang tersebar di seluruh tanah air. Sebuah perjuangan besar, bukan dicipta ujug-ujug,

Aku menghampirinya di Yayasan Halim tempat ia mengisi seminar Wing Chun selama dua hari. Kami bercakap, bercanda begitu hangatnya, padahal baru sekali ini kami bertatap langsung. Di sela pembicaraan, Sifu (guru) mengenalkanku dihadapan murid-muridnya.

"dia ini mantan muridnya almarhum Azzam, murid saya waktu di Bogor dulu."

Aku pun tersenyum malu, karena sedari awal masuk ke Yayasan Halim, aku menyembunyikan identitasku;bahwa aku juga pecinta Wing Chun sejak 2011 lalu. Sang Guru terus saja bercerita perkembangan perguruannya sampai perkara teknis, tanpa tendensi kesombongan namun tetap berperangai gagah dan percaya diri.

"Wing Chun itu bukan hanya soal jurus, karena itu bisa dipelajari di Youtube, yang penting adalah cara mainnya, butuh waktu bertahun-tahun."

Singkat cerita, tak ada rasa jemawa  yang tampil, kendati ilmu kungfunya sangat terampil. Guru Besar bernama Julius Khang ini membuatku terkagum tanpa kepalang. Bersyukurnya aku bisa bersilaturahim meski terlalu singkat. Bersama Guru Hebat, rendah hati, membumi. Terpesan akhirnya, "kehebatanmu tak perlu kau tampak-tampakkan, karena itu justru memperlihatkan kekuranganmu. Juga tak perlu menampak-nampakkan kelemahanmu. karena itu menghinakan dirimu sendiri".
Previous
Next Post »