Langkah Walikota Bandung, Ridwan Kamil dalam pengunduran dirinya dari calon wakil gubernur DKI membuat dua mata pisau terbilah. Sebagian warga mengharap perubahan, sebagian lagi berpendapat tak realistis jika Kang Emil memimpin wilayah yang tak begitu dikenalinya. Dengan mengepul dua prasangka, Ridwan menggunakan jejaring facebook untuk membaca dirinya. Alhasil, ribuan komentar mampu terserap.
Jika menilik kenyataan matematis, populasi warga di Jawa Barat sekitar 60 juta jiwa lebih, sedangkan Bandung 2,3 juta jiwa diantaranya (berbagai sumber). Bandingkan dengan DKI Jakarta, yang 'hanya' memiliki penduduk 9 juta jiwa 'saja'. Andaikata Kang Emil hendak berkarir di politik praktis secara pragmatis, maka gengsi track record memangku jantung peradaban Indonesia Raya bisa didapat, itupun jika ia berhasil menekel rival terberatnya; Basuki Tjahaja Punama (sementara kita abaikan dulu calon kandidat lain). Dua nasehat terbaik menjadi pertimbangan menarik. Pertama, jika Ridwan Kamil Menang maka Ahok Menganggur. Jika Ahok yang menang, maka Ridwan Kamil menganggur.
Pertanyaan yang muncul kemudian, batalnya Walikota Paris van Java ini apakah bisa dikatakan "kalah sebelum perang?", seperti Zinedine Zidane yang angkat bendera putih, tanda menyerah saat perlawanan tim asuhannya, Real Madrid, dikandaskan oleh rival sekota; Atletico Madrid?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, mari kita simak simpulan pernyataan salah satu netizen yang beredar dengan nama, Dwi Bebeck. "Hemat saya Kang Emil jangan maju di Pilgub DKI Jakarta 2017, fokus aja urusi Bandung, lalu naik jadi Gubernur Jawa Barat. Ini lebih realistis, mengingat ketokohan Akang lebih kuat di tempat sendiri, ketimbang harus menyebrang ke kampung orang. Saya rasa, jika Akang sudah dipercaya sekurangnya 60 juta rakyat Jawa Barat, kelanjutan impian ke RI-1 bisa saja mewujud."
Selain statement bernas tersebut, tentu Ridwan Kamil juga punya hitung-hitungan sendiri. Seperti pernyataannya di dalam fanspage Ridwan Kamil yang telah di-like lebih 1,5 juta orang:
"Gak takut kalah? Menang kalah dalam hidup adalah biasa. Cinta saya pernah ditolak 2 kali. Kalah dalam sepakbola sering. Masuk arsitektur gara-gara tidak berhasil masuk Teknik Kimia ITB dan saya pernah dilecehkan berkali-kali saat di Amerika karena minoritas dan faktor ras. Saya sudah melewati semua itu. Makanya mau dimaki atau dibuli di twitter atau medsos oleh banyak pihak termasuk para buzzer lawan politik itu mah biasa saja. Politik itu bising. Insya Allah saya sudah kebal."
Lha kok komen ini yang diambil, bukan poinnya atuh. Lanjut ke pernyataan di paragraf 'terpenting':
"Bandung hari ini sudah membaik, namun belum sehat betul. Lebay jika dibilang Bandung sudah berhasil. Bohong pula jika ada yang mengatakan Bandung tidak ada kemajuan. Dalam kurun 2 tahun ini, reformasi birokrasi Bandung sudah membaik. Kinerja birokrasi dari urutan ratusan tahun 2013 sekarang urutan 1 nasional dengan nilai A. Pelayanan publik dari rapor merah sekarang urutan 4 nasional. Transparansi pemerintah sudah urutan 3 dari asalnya urutan 17 di Jawa Barat. Itu progres."
" Ijin usaha UKM dihilangkan sama sekali. 7000 warga miskin sudah diberi kredit usaha tanpa bunga dan tanpa agunan. Setiap RW diberi anggaran 100 juta sebagai konsep pemerataan pembangunan. Pengangguran terbuka turun dari 10,9% ke 8 %. Itu semua adalah kemajuan. Jadi Bandung membaik bukan hanya urusan taman, seperti yang sebagian tukang nyinyir kira."
"Dan yang terberat, warga Bandung mayoritas tidak mengijinkan saya pergi sebelum menyelesaikan tugas. Di dalam kata ‘warga Bandung’ terkandung di dalamnya suara relawan yang dulu berjibaku memenangkan saya, suara keluarga saya dan suara mentor hidup saya yaitu ibu kandung saya, yang tidak merestui kemanapun sebelum niat selesaikan periode pertama kewalikotaan Bandung ini tunai. Semoga warga Bandung juga memahami, bantu saya dengan aktif menaati aturan dan berpatisipasi aktif dalam program-program pemkot, agar Bandung Juara berkat usaha bersama."
Meninjau elektabilitas, Kang Emil mungkin saja mampu menyalip Ahok, dengan rentang waktu yang masih tersisa. Dua bilah pisau tadi bisa jadi tepat guna, tepat cara; mencitrakan diri dalam rekayasa sosial atau menanjak otomatis melalui karya-karya natural. Dalam kata cetak tebal di atas, Kang Ridwan tak mau mengibarat "Kacang Lupa Kulit", atau menjadi sesuatu tanpa lompatan yang benar. Filosofi "mengalah untuk menang", kiranya cukup tepat karena belum saatnya beliau berada di kebisingan kota megapolitan, cukup duduk manis diantara kebun teh dan saung, dalam sirkulasi udara nan 'sejuk'.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar