Sambas Raya, Uruguay - Malang benar nasib Alexis. Gagah namanya tiada sejalan dengan apa yang menimpanya. Bocah Viviedo, kampung terpinggir di Uruguay harus menelan pil pahit kehidupan. Hanya menamatkan Sekolah Dasar di St. Margareth School, Alex juga ‘dipaksa’ menerima takdir ditinggal pergi oleh kedua orangtuanya.
Kebanyakan anak-anak sengaja ditinggalkan sendirian di jalan untuk mengemis agar bisa menyambung nafas. Para orangtua yang pengangguran tak bisa membesarkan anak-anak mereka dengan hasil keringat mereka sendiri.
Viviedo, tempat dimana el Pistolero, Luis Suarez lahir, kondisinya tak jauh berbeda saat bomber Barcelona tersebut masih berusia kanak-kanak. Bertumbuh dari kalangan papa, di kawasan yang kering, gersang, sisa kegarangan penjajah imperialis, luncahkan kengerian negeri benua latin.
Tipikalnya yang gemar menggigit pemain Eropa, bak sebagai kausalitas betapa geramnya Si Gigi Kelinci akan kelakuan imperalis benua biru, yang membuat ia dan jutaan warganya miskin kelaparan, tanpa tempat tinggal, bahkan tanpa ‘ilmu pengetahuan’. Alhasil, si kulit bundar menjadi satu-satunya hiburan bocah Viviedo, meski berbalut puluhan tampalan.
Luis adalah satu dari sekian ‘manusia terjungkal’, yang membuktikan pada dunia, bahwasanya agresi politik-militer-ekonomi tak mampu membunuh tekad yang telah membaja. Terlepas apapun buruk sikapnya, pemuda 27 tahun seakan memberi jawaban, “semangat cita-cita tinggi takkan luruh oleh berlapis tembok kegagalan, seperti kerasnya karang yang tak gampang menyerah walau harus dikikis ombak”.
Sayangnya, Alexis berada dalam posisi lebih parah ketimbang Luis. Bagaimana mungkin ia sempat bermain bola seperti anak-anak lain, ataupun hanya sekedar bermain petak umpet. Bocah 12 tahun itu bertarung melawan lelah. Bersenjatakan kecrekan – entah apa namanya dalam bahasa latin – dirinya mengitari setiap sudut sempit Viviedo demi mencari 'serpihan' peso uruguay.
Ini terpaksa ia lakukan untuk ‘menyusui’ adiknya, Charita, yang genap berusia 90 hari. Keduanya tampak kurus. Uang yang didapat hanya bisa digunakan untuk membeli nasi. Lantas, bagaimana nasib Charita?
Beruntung masih ada belas-kasih dari warga sekitar. Kendati belum ada blusukan dari pejabat negeri.
“Kami biasa memberinya susu formula, dan beberapa keping roti. Entahlah, sepertinya bayi mungil itu kekurangan gizi,” jelas Takayama, seorang warga Jepang yang sedang meneliti di kawasan kumuh tersebut.
Kondisi keduanya sungguh memprihatinkan. Bayi mungil itu tak semestinya terlantar diluar dengan pakaian yang serba kurang. Seharusnya Charita bisa tertidur pulas di atas kasur yang empuk, bersamaan lantunan ‘nina bobo’ dari sang Ibu. Memang terasa mustahil, tapi bukankah Tuhan Maha Pengasih? Sebagaimana kasihNya terhadap Uruguaian Football Player; Luis Alberto Suarez Diaz. Terharap agar Alexis dapat lanjutkan sekolahnya. Terdo’a agar Charita terus hidup sehat dan tumbuh menjadi wanita tangguh, sehingga sadarkan dunia bahwa kekejaman tak selamanya membunuh. Bahwa kesulitan tercipta bukan untuk mematikan, melainkan meniupkan ‘ruh baru’ dalam jiwa – mengunci satu Istana megah di SurgaNya.
Next
« Prev Post
« Prev Post
Previous
Next Post »
Next Post »
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

EmoticonEmoticon